PENGERTIAN UNSUR-UNSUR DELIK

Untuk mempermudah pemahaman, diberikan ilustrasi sebagai berikut. Kata “delik” terdiri atas huruf: d, e, l, i, dan k. jika salah satu huruf dibuang tidak ada kata “delik”, tetapi “elik” atau “delk” dan sebagainya; yang jelas, jika salah satu huruf tidak ada, arti dan maksudnya akan berbeda. Dengan perkataan lain, kata “delik” terdiri atas 5 (lima) huruf. Tiap huruf merupakan unsur dari kata “delik”. Demikian halnya jika diformulasikan kepada “hakikat delik”, misalnya pada delik pencurian:

“Barang siapa mengambil sesuatu barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud hendak memilikinya dengan melawan hukum, dihukum karena bersalah tentang pencurian … dan seterusnya.”

Dari ketentuan di atas, unsur-unsur pencurian adalah

  • Barang siapa;
  • Mengambil;
  • Sesuatu barang;
  • Barang itu seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain;
  • Dengan maksud memilikinya dengan melawan hukum.

Misalnya, binatang liar di hutan yang tidak ada pemiliknya atau barang yang pemiliknya telah melepaskan haknya (res nullius) diambil oleh seseorang, yang mengambil tersebut tidak memenuhi unsur ke-4. Dengan demikian, tidak ada pencurian. Atau misalnya, yang mengambil barang tersebut hanya memakainya sesaat (bukan untuk memiliki) sehingga tidak terpenuhi unsur ke-5. Dengan demikian, ia bukan pencuri.

Mengenai unsur “barang siapa”, sebagian pakar hukum pidana berpendapat bahwa “barang siapa” bukan merupakan unsur melainkan hanya untuk memperlihatkan bahwa si pelaku adalah “manusia”. Akan tetapi, pendapat tersebut disangkal pakar lainnya dengan mengutarakan pendapat bahwa “barang siapa” tersebut benar adalah unsur, tetapi perlu diuraikan siapa manusianya dan berapa orang. Jadi, identitasnya “barang siapa” tersebut harus jelas. Kekaburan identitas pelaku dapat membatalkan surat dakwaan. Itulah sebabnya “barang siapa” dianggap sebagai unsur.

Terhadap “unsur delik” terdapat perbedaan istilah. Mr. Tirtaamidjaja misalnya, menyebutnya dengan istilah “elemen-elemen”, Mr. Utrecht menyebutnya dengan istilah “anasir-anasir”. Akan tetapi, pada umumnya digunakan istilah “unsur-unsur”.

About Grace

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *